Jangan Berzina Sebelum Baca Artikel Ini! (Kuliah Zina dari Dosen Mistar dan Gurubesar Sanusi)


keys-heart

Kuliah singkat dari dosen Mistar dan gurubesar Sanusi ini sangat berharga bagi anak-cucu Adam, terutama para pria hidung belang yang suka jajan ”seks” di luaran alias para zinamania.

Mistar, warga Desa Wonoayu RT 2 RW 4 Kecamatan Wonoayu Kabupaten Sidoarjo, tiba-tiba ambruk tak bernyawa saat hendak ’bermain bola sodok’ bersama lawan jenisnya, Dimah, warga Desa Kupang RT 5/RW 6, Kecamatan Jetis Kabupaten Mojokerto, Jawa Timur.

Ayah berusia 55 tahun yang akrab dipanggil Cak Mis ini, ketika itu hendak bercumbu dengan dengan Ning Dimah (41), sang pramuria alias PSK kelas murah, yang dalam istilah lokal lebih populer dengan sebutan ”gembluk” alias ”lonte.” Namun ketika melepas celana dalamnya, Mistar tiba-tiba roboh. Dimah yang sudah ”cucul” busana pun langsung panik dan berteriak minta tolong kepada warga lainnya. Penjaga rumah akhirnya bergegas masuk dan melihat korban yang sudah tak bernyawa. Nuansa cumbu-rayu pria paruh baya dengan gembluk Dimah pun berubah menjadi kegaduhan, akibat banyaknya warga yang ingin memastikan siapa gerangan pria yang menghembuskan nafas terakhirnya di tempat tak terpuji itu.

Para saksi akhirnya melaporkan kejadian ini ke Polsek Krian. Sementara mayat Mistar dikirim ke RSUD untuk diotopsi, selanjutnya disemayamkan di taman yang penuh bunga kamboja untuk ’diotopsi’ lebih lanjut oleh sang malaikat Qubur, Munkar dan Nakir.

…sedetik pun jangan berniat untuk berbuat maksiat. Siapa tahu, ketika hendak bermasiat seperti dosen Mistar, ajal datang menjemput tanpa bisa ditunda, lalu mati dalam keadaan suul khatimah…

Kapolsek Krian, AKP Syamsul Hadi membenarkan kejadian itu. “Dalam tubuh korban juga tidak ditemukan bekas penganiayaan. Dimah yang sudah ”cucul” busana ketika korban menghembuskan nafas terakhirnya, juga sudah diperiksa penyidik,” ujarnya Jumat (22/1).

Itulah kuliah singkat dari dosen Mistar dalam makalah berjudul: ”Hidung Belang Meregang Nyawa di Pelukan PSK.”

Kuliah Satu Ronde Gurubesar Mbah Sanusi

Jika kuliah dari dosen Mistar itu belum cukup, masih ada mata kuliah akhir semester yang disampaikan oleh Gurubesar Sanusi. Pria berusia 63 ini biasa dipanggil “Mbah Sanusi” lantaran usianya yang memasuki masa manula. Meski usia sudah bau tanah, tapi semangat ”jajan”nya masih greng seperti anak muda. Usai membuang energi di tempat yang tidak semestinya, Si Mbah warga Semolowaru Utara, Surabaya ini malah kehilangan nyawanya.

Usai menyerahkan hasrat cintanya secara salah kepada pelacur, Mbah Sanusi langsung menyerahkan nyawanya kepada Malaikat Izroil.

“Permainan” terlarang baru berlangsung satu ronde, Si Mbah tewas seketika, diduga kuat korban tewas akibat penyakit jantungnya kambuh. Suasana gubuk PSK di kawasan Dinoyo, Minggu (10/1) sore pun langsung geger.

Informasi yang diperoleh, korban ini datang ke lokalisasi mini pinggir kali sekitar pukul 14.00 WIB. Begitu tiba, korban langsung mem-booking seorang PSK yang dipanggil Yuli.

“Waktu itu, dia booking saya dengan tarif Rp 25 ribu sekali main. Setelah itu kita langsung main di gubuk milik mbok Sukanah,” kata Yuli di lokasi.

…Jangan jadikan maksiat sebagai tradisi, seperti gurubesar Sanusi. Usia sudah di ujung tanduk, tapi kebiasan maksiat sudah mendarah daging. Waktu ashar tiba bukannya shalat di masjid dengan badan yang suci, pakaian wangi, wajah bersinar, dan bibir berzikir, malah blusukan di tempat mesum yang kotor di pinggir sungai. Akhirnya tewas terkutuk di pangkuan pelacur. Dengan tiket su’ul khatimah itu, pintu akhirat yang mau menampungnya hanya satu: Neraka!…

Begitu berada di dalam kamar, korban langsung main dengan Yuli. Tapi baru satu ronde, korban langsung terkulai lemas. Tentu saja hal ini membuat Yuli panik. “Saya pikir dia mau minta main lagi. Tapi saat saya panggil-panggil dia tetap tidur. Eh gak tahunya malah mati,” ujarnya.

Melihat tamunya mati tak bernyawa, Yuli berteriak memanggil warga sekitar. Selanjutnya warga melaporkan kejadian ini ke Polsek Tegalsari. Petugas yang mendapat laporan ini langsung ke TKP.

“Setelah kita lakukan olah TKP, kita tak menemukan tanda-tanda kekerasan pada tubuh korban. Kuat dugaan korban ini tewas akibat penyakit jantung atau darah tingginya kambuh,” ujar Kapolsek Tegalsari AKP Totok Sumariyanto di lokasi.

Meski telah diketahui penyebab kematiannya, mayat Mbah Sanusi tetap dibawa ke ruang jenazah RSU Dr Soetomo untuk diotopsi, sebelum dikirim ke ruang jenazah di alam barzah untuk ’diotopsi’ lebih lanjut oleh sang malaikat kubur, Munkar dan Nakir.

Itulah cuplikan kuliah akhir semester yang disampaikan oleh gurubesar Mbah Sanusi dalam makalah berjudul: ”Main Satu Ronde, Kakek Tewas di Gubuk PSK.”

Renungan ajal dari Cak Mistar dan Mbah Sanusi

Umur manusia adalah rahasia Allah Ta’ala. Karenanya, kapan dan di mana manusia meninggal, hanya Dia saja yang tahu. Tak seorang pun tahu kapan dan di mana hayatnya berakhir, termasuk para nabi dan rasul.

”… Dan tiada seorangpun yang dapat mengetahui (dengan pasti) apa yang akan diusahakannya besok. Dan tiada seorangpun yang dapat mengetahui di bumi mana dia akan mati. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal” (Qs Luqman 34).

Menyambut kematian yang datangnya misterius yang harus jadi idaman kita adalah menghembuskan nafas yang terakhir dalam keadaan khusnul khatimah (happy ending full barakah) dalam iman dan taat kepada Allah Ta’ala. Hanya gaya kematian model inilah yang berguna bagi kita di akhirat kelak.

“Di hari harta dan anak-anak laki-laki tidak berguna, kecuali orang-orang yang menghadap Allah dengan hati yang bersih” (Qs Asy-Syu’ara 88-89).

Sebaliknya, kematian dengan cara yang jelek (su’ul khotimah/sad ending) akan menjebloskan manusia ke neraka. Na’udzubillahi min dzalik. Dalam sebuah hadits Rasulullah shallallahu ’alaihi wasallam mengingatkan bahaya suul khatimah:

Dari Abu Abdurrahman, Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu ’anhu, dia berkata: ”Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda kepada kami dan beliau adalah orang yang selalu benar dan dibenarkan: “…Demi Allah yang tiada tuhan selain-Nya, sesungguhnya ada di antara kamu yang melakukan amalan penduduk surga dan amalan itu mendekatkannya ke surga sehingga jarak antara dia dan surga kurang satu hasta, namun karena taqdir yang telah ditetapkan atas dirinya, lalu dia melakukan amalan penduduk neraka sehingga dia masuk ke dalamnya. Dan sesungguhnya ada seseorang diantara kamu yang melakukan amalan penduduk neraka dan amal itu mendekatkannya ke neraka sehingga jarak antara dia dan neraka hanya kurang satu hasta, namun karena taqdir yang telah ditetapka atas dirinya, lalu dia melakukan amalan penduduk surga sehingga dia masuk ke dalamnya” (HR. Muslim).

Bagi hamba Allah yang beriman, gaya kematian yang diidam-idamkan adalah khusnul khatimah. Mereka begitu takut dan berlindung kepada Allah agar tidak menghadap kepada-Nya dengan gaya mati su’ul khatimah.

…Salah satu penyebab su’ul khatimah yang harus diwaspadai oleh seorang mukmin, adalah banyak melakukan maksiat. Orang yang sering bermaksiat, akan didominasi oleh memori tersebut saat kematian menjelang…

Dalam kitab ”Al-Yaumul-Akhir: Al-Qiyamatush-Shughra wa ‘Alamatul-Qiyamah Al-Kubra,” Dr Umar Sulaiman Al-Asyqar menulis bab khusus berjudul “Hal-hal Yang Menyebabkan Su’ul Khatimah (akhir kehidupan yang buruk)”. Dalam kitab yang diterjemahkan dalam bahasa Indonesia berjudul ”Ensiklopedia Kiamat” ini disebutkan empat perkara yang dapat menyebabkan seseorang mengakhiri hidupnya dalam keadaan buruk (su’ul khatimah) sehingga menghantarkannya ke Neraka di kehidupan abadi negeri akhirat kelak.

Salah satu penyebab su’ul khatimah yang harus diwaspadai oleh seorang mukmin, adalah banyak melakukan maksiat. Orang yang sering bermaksiat, akan didominasi oleh memori tersebut saat kematian menjelang. Sebaliknya bila seseorang seumur hidupnya banyak melakukan ketaatan, maka memori tersebutlah yang menemaninya saat sakratul maut. Orang yang banyak dosanya sehingga melebihi ketatannya maka ini sangat berbahaya baginya. Dominasi maksiat akan terpateri di dalam hatinya dan membuatnya cenderung dan terikat pada maksiat, dan pada gilirannya menyebabkan su’ul khatimah.

Dari kuliah tak langsung yang diberikan oleh dosen Cak Mistar dan gurubesar Mbah Sanusi, kita patut merenung: bahwa cepat atau lambat, diperkirakan atau tidak, dikejar atau dihindari, kematian pasti akan datang. Kematian adalah suatu kepastian. Kewajiban kita hanya menyambutnya setiap saat dengan iman, amal shalih dan ketaatan kepada Allah.

Kita tidak tahu apa yang terakhir kali kita lakukan ketika kita meninggal kelak? Supaya tidak mati dalam keadaan maksiat, maka kita harus jauhi segala maksiat. Jangan jadikan maksiat sebagai tradisi, seperti gurubesar Sanusi. Usia sudah di ujung tanduk, tapi kebiasan maksiat sudah mendarah daging. Waktu ashar tiba bukannya shalat di masjid dengan badan yang suci, pakaian wangi, wajah bersinar, dan bibir berzikir, malah blusukan di tempat mesum yang kotor di pinggir sungai. Akhirnya tewas terkutuk di pangkuan pelacur. Dengan tiket su’ul khatimah itu, pintu akhirat yang mau menampungnya hanya satu: Neraka!

Supaya tidak mati dalam keadaan maksiat, sedetik pun jangan berniat untuk berbuat maksiat. Siapa tahu, ketika hendak bermasiat seperti dosen Mistar, baru cucul busana tapi belum sempat ”madon,” ajal datang menjemput tanpa bisa ditunda, lalu mati dalam keadaan suul khatimah, dan sesuai dengan janji Allah, kematian model ini wajib masuk neraka.

Betapa bedebahnya ulah dosen Mistar dan gurubesar Sanusi. Ia tinggalkan dunia dengan aib yang tidak hanya disandangnya, tapi juga diwariskan kepada para keluarganya. Anak-anaknya menanggung malu sebagai ”anaknya pezina,” sang istri yang ditinggalkan juga dicap sebagai ”istrinya pezina,” dan seterusnya. Sementara dosen Mistar dan gurubesar Sanusi sudah bisa dipastikan menderita dalam azab Allah yang keras dan kekal abadi, tiada batas dan tepinya.

Bagi kita, kematian model apakah yang kita idam-idamkan? Jika bukan kematian su’ul khatimah gaya dosen Mistar dan gurubesar Sanusi, tak ada pilihan lain: jangan bermaksiat sedetikpun, karena kita tidak tahu, bisa saja ketika bermaksiat atau ketika hendak bermaksiat itulah saat kematian kita tiba. [taz/dari berbagai sumber]

2 comments on “Jangan Berzina Sebelum Baca Artikel Ini! (Kuliah Zina dari Dosen Mistar dan Gurubesar Sanusi)

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s